Gizi Buruk pada Balita
Gizi Buruk pada Balita
Balita adalah anak yang telah menginjak usia diatas satu tahun. Berdasarkan Riskesdes 2013 terlihat prevelensi gizi buruk dan gizi kurang meningkat dari tahun 2007 ke tahun 2013. Prevelensi sangat pendek turun 0.8% dari tahun 2007, tetapi prevalensi pendek naik 1.2% ke tahun 2013.seharusnya kasus ini dapat diatasi mulai dari bayi, Rekomendasi WHO untuk pemberian Gizi pada Bayi yaitu IMD (30 menit) setelah bayi lahir, ASI Eksklusif usia 6 bulan, MP-ASI usia 6 – 9 bulan.
Zat-zat gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh: protein, kalsium, vitamin D, vitamin A dan K, Fe (zat besi). Peran Protein bagi si kecil dalam masa pertumbuhan sangatlah penting. Jika asupan protein kurang diberikan kepada si kecil, maka balita berisiko mengalami kondisi Kurang Energi Protein (KEP), Para ahli mengelompokkan KEP ke dalam tiga tipe utama:
1. Marasmus
Kekurangan gizi yang ditemui pada anak usia 0-2 tahun yang tidak mendapatkan cakupan air susu ibu (ASI). Salah satu penyebabnya karena masukan makanan yang sangat kurang. Ini ditandai dengan berat badan yang sangat rendah, ukuran kepala tidak sebanding dengan ukuran tubuh, tampak lebih tua (old man face), bentuk perut cekung sering disertai diare kronik atau malah susah buang air kecil.
2. Kwashiorkor
Kondisi ini ditemukan pada anak usia 1-3 tahun yang kurang mendapatkan asupan protein. ditandai dengan pembengkakan (edema) pada seluruh tubuh hingga tampak gemuk, wajah anak membulat dan sembab (moon face), otot mengecil dan menyebabkan lengan atas kurus sehingga ukuran LILA nya kurang dari 14 cm.
3. Kwasirkor Marasmus
Kekurangan protein kronis pada anak-anak yang sering disebabkan beberapa hal, antara lain anak tidak cukup makanan bergizi (terutama tidak mengandung cukup energi dan protein), anak tidak mendapat asupan gizi yang memadai dan mungkin infeksi penyakit kondisi ini sering dikenal dengan istilah busung lapar.
Perlu diperhatikan Prinsip Gizi menurut Global Strategy for Infant and Young Child Feeding, WHO/UNICEF merekomendasikan empat hal penting yang harus dilakukan yaitu;
- Memberikan air susu ibu kepada bayi segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir,
- Memberikan hanya air susu ibu (ASI) saja atau pemberian ASI secara eksklusif sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan
- Memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) sejak bayi berusia 6 bulan sampai 24 bulan
- Meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 24 bulan atau lebih (WHO, 2003)
- Dianjurkan untuk memberi 100-110 Kkal energi tiap kgBB/ hari. Oleh karena itu, susu bayi mengandung kurang lebih 67 Kkal tiap 100 cc. Maka bayi diberikan 150-160 cc susu tiap kg BB.
Makanan yang perlu diberikan pada bayi usia 6 bulan: ASI tetap diberikan. Berikan makanan lembut (lumat) 2x sehari, berikan asi terlebih dahulu baru makanan pendamping.
Dampak gizi buruk pada balita
- Gangguan kesehatan mental dan emosional
- Tingkat IQ yang rendah
- Penyakit infeksi
- Anak tidak tumbuh dengan optimal
1. Fase stabilisasi
Pengobatan dimulai ketika kondisi klinis dan metabolisme anak belum sepenuhnya stabil. Fase stabilisasi bertujuan untuk memulihkan fungsi organ-organ yang terganggu serta pencernaan anak agar kembali normal. Dibutuhkan waktu sekitar 1-2 hari untuk memulihkannya, atau bahkan bisa lebih, tergantung dari kondisi kesehatan anak.
2. Fase Transisi
Tahap kedua adalah masa transisi ketika perubahan pemberian makanan tidak menimbulkan masalah pada kondisi anak. Fase ini biasanya berlangsung selama 3-7 hari dengan pemberian susu formula khusus berupa F 100 atau modifikasinya.
3. Fase Rehabilitasi
Fase ini di mana nafsu makan anak sudah normal kembali dan sudah bisa diberi makanan agak padat melalui mulut (oral). Namun makanannya bisa dilakukan melalui selang makanan (NGT) bila anak belum sepenuhnya bisa makan secara oral. Fase ini umumnya berlangsung selama 2-4 minggu sampai indikator status gizi BB/TB nya mencapai -2 SD dengan pemberian F 100.
Sumber:

Komentar
Posting Komentar